JAKARTA – Di ruang Komisi XIII DPR RI, Senin (2/2), Nenek Saudah tidak hanya membawa tubuh yang masih sakit, tapi juga membawa misteri yang gagal dijawab aparat di Sumatera Barat. Isak tangisnya pecah bukan sekadar karena trauma fisik, melainkan karena martabatnya “dihabisi” dua kali: pertama oleh penganiaya, kedua oleh lingkungannya yang mengucilkannya.
Kejanggalan besar tercium dalam forum tersebut. Keluarga korban membongkar keanehan klaim Polda Sumbar yang bersikeras menetapkan pelaku tunggal berinisial IS. Logikanya sederhana namun tajam: mana mungkin lansia diseret dan dibuang ke seberang sungai hanya oleh satu orang tanpa bantuan pihak lain?
Lebih jauh, ada upaya sistematis untuk mendegradasi kasus ini dari perlawanan terhadap mafia tambang menjadi sekadar konflik tanah keluarga. Padahal, LBH Padang dengan tegas menyatakan pemicunya adalah keberanian Saudah menutup tambang emas ilegal di lahannya sendiri. Keluarga kini menuntut pengacara netral, sebuah simbol hilangnya kepercayaan pada penegakan hukum di daerah yang diduga sudah “terkontaminasi” pengaruh penambang.
Fokus kini tertuju pada perbedaan narasi hukum. Kepolisian menarik garis pada konflik agraria personal, sementara fakta lapangan menunjuk pada resistensi terhadap aktivitas tambang emas ilegal. Jika DPR tidak mendesak sinkronisasi penegakan hukum yang transparan, kasus Saudah akan menjadi preseden buruk bahwa di hadapan tambang ilegal, perlindungan negara terhadap warga sipil adalah barang mewah yang sulit diraih.
Keluarga korban secara terbuka meragukan profesionalisme penyelidikan di tingkat lokal. “Kenapa tersangka lain tidak ditangkap? Padahal ada pengakuan pelaku,” cecar perwakilan keluarga di forum tersebut. Mereka menolak keras penyempitan motif yang dilakukan kepolisian yang menyebut kasus ini hanya masalah internal keluarga, sementara luka di wajah Saudah adalah bukti nyata perlawanan terhadap tambang emas ilegal.
Keluarga berharap, sepulangnya mereka dari Jakarta, ada perubahan drastis pada penanganan kasus di Jorong Lubuak Aro. Bukan lagi sekadar narasi di atas kertas, tapi penangkapan aktor-aktor lain yang terlibat dalam penganiayaan brutal awal tahun lalu itu.
