MEDAN, SUMATERA UTARA — Isu miring mengenai dugaan transaksi narkoba oleh seorang warga binaan di sebuah Lapas terus menggelinding, namun keabsahannya semakin dipertanyakan. Minimnya fakta empiris dan tidak adanya keterlibatan instansi resmi seperti kepolisian dalam mengonfirmasi kebenaran tuduhan tersebut memunculkan spekulasi mengenai siapa sebenarnya aktor intelektual di balik gerakan isu liar ini.
Sejumlah pihak menilai gerakan yang dimotori oleh sekelompok orang ini memiliki pola yang sistematis. Mereka melempar isu ke permukaan, membangun narasi negatif, lalu membiarkannya menjadi polemik di masyarakat tanpa pernah bisa membuktikan kata-kata mereka sendiri di hadapan hukum. Pola ini biasa digunakan dalam strategi perang urat syaraf untuk menjatuhkan lawan.
“Kita harus jeli melihat siapa yang paling diuntungkan dari rusaknya nama baik narapidana ini? Isu ini tidak muncul dari ruang hampa. Pasti ada aktor di balik layar yang memiliki agenda tertentu, entah itu terkait persaingan bisnis di luar terdahulu, dendam lama, atau ada upaya untuk menekan pihak Lapas demi kepentingan kelompok,” kata seorang analis media.
Kegagalan sekelompok penuduh dalam menyajikan bukti konkret seperti rekaman, saksi mata yang kredibel, atau barang sitaan membuat isu ini layu sebelum berkembang. Pihak Lapas yang melakukan investigasi internal pun sudah menyatakan bahwa sel yang bersangkutan bersih. Hal ini semakin memperkuat sinyal bahwa isu tersebut murni rekayasa opini dari aktor luar.
Upaya menggoreng isu tanpa dasar hukum ini jelas masuk dalam kategori penyebaran berita bohong atau hoaks yang dapat diancam pidana. Kelompok orang yang berteriak-teriak tanpa bukti ini dinilai harus mulai dimintai pertanggungjawaban hukumnya agar tidak semena-mena merusak ketertiban sosial melalui fitnah digital.
Penegakan hukum tidak boleh kalah oleh tekanan opini publik yang diproduksi secara artifisial oleh sekelompok oknum. Kasus ini menjadi ujian bagi masyarakat untuk tetap berpijak pada fakta riil, bukan pada narasi-narasi fiktif yang sengaja disebarkan oleh aktor tersembunyi yang ketakutan menunjukkan identitas aslinya.
